MAKALAH
SOSIOLOGI PERIKANAN
Pendekatan
Aquatic and Marine Preneurship di Provinsi Sumatera Utara
Disusun
Oleh:
KELOMPOK II A:
ADINDA
KINASIH J 230110140108
JANUAR
AWALIN HARVAN 230110140123
ANNISA
PUTRI SEPTIANI 230110140132
HYUNANDA 230110140134
UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
TAHUN 2015
KATA
PENGANTAR
Rasa
syukur yang dalam kami sampaikan kehadiran Tuhan Yang Maha Pemurah , karena
berkat kemurahan-Nya makalah ini dapat kami menyelesaikan penyusunan makalah
ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Dalam makalah ini kami
membahas “Pendekatan Aquatic and Marine
Preneurship di Provinsi Sumatera Utara”. Makalah ini kami buat untuk
memenuhi tugas pada mata kuliah Sosiologi Perikanan.
Harapan
kami semoga makalah ini dapat membantu maupun menambah pengetahuan serta
pengalaman bagi para pembaca, sehingga dapat memperbaiki bentuk maupun isi
makalah ini sehingga ke depannya lebih baik lagi. Makalah ini kami akui masih
banyak kekurangan karena keterbatasan pengalaman yang kami miliki. Oleh karena
itu, saya harapkan bagi para pembaca untuk memberikan masukan-masukan, kritik
dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan demi
sempurnanya makalah ini.
Jatinangor,
10 Maret 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................... i
DAFTAR ISI..................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. .. 1
1.1
Latar
Belakang................................................................................. 1
1.2
Tujuan.............................................................................................. 2
BAB
II KAJIAN PUSTAKA.......................................................................... 3
2.1
Pengertian Sosiologi......................................................................... 3
2.2
Perkembangan Tokoh Sosiologi....................................................... 3
2.3
Teori Sosiologi Ekonomi.................................................................. 6
BAB III ANALISIS.......................................................................................... 7
3.1
Sejarah
Singkat Provinsi Sumatera Utara...................................... .. 7
3.2
Letak
Geografis Provinsi Sumatera Utara..................................... .. 8
3.3
Kondisi Sosial Ekonomi Provinsi Sumatera
Utara........................ .. 8
3.4
Kondisi Perairan dan Ekonomi Perairan
Beberapa Kabupaten di Sumatera Utara 10
3.4.1 Kondisi
Perairan dan Ekonomi Perairan Kabupaten Nias...... 10
3.4.2 Kondisi
Perairan dan Ekonomi Perairan Kabupaten Tapanuli Tengah 10
3.4.3 Kondisi
Perairan dan Ekonomi Perairan Kabupaten Serdang Bedagai 11
3.5
Potensi Kelautan dan Perikanan Provinsi
Sumatera Utara............ .. 12
3.6
Permasalahan
yang Terjadi di Daerah Pesisir Sumatera Utara...... .. 14
3.7
Strategi dan Kebijakan Dinas Kelautan
dan Perikanan provinsi Sumatera Utara 17
3.8
Kondisi
Umum.............................................................................. .. 18
3.9
Iklim.............................................................................................. .. 19
3.10
Kondisi
Masyarakat....................................................................... .. 19
BAB
III PENUTUP....................................................................................... .. 20
3.1
Kesimpulan.................................................................................... .. 20
3.2
Saran.............................................................................................. .. 20
DAFTAR
PUSTAKA.................................................................................... .. iii
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Indonesia adalah
Negara yang mempunyai wilayah perairan laut dan perairan darat yang sangat luas
dibandingkan negara Asean lainnya. Sumber daya alam ini salah satunya
menghasilkan ikan dan hasil perikanan lainnya. Oleh karenanya, akhir-akhir ini
pemerintah sangat mengintensifkan usaha penangkapan dan budi daya ikan dalam
upaya mendapatkan pemasukan devisa yang lebih besar. Namun, usaha tersebut akan
menjadi tidak berguna jika tidak dibarengi dengan peningkatan pengetahuan
tentang penanganan ikan setelah penangkapan dan pemanenan (Junianto, 2003).
Sebagai Negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang nomor dua di dunia
setelah Kanada, Indonesia mempunyai keanekaragaman sumber daya hayati perairan
yang sangat tinggi. Salah satu diantaranya adalah sumber daya ikan laut dengan
potensi produksi lestari mencapai 6,4 juta ton per tahun. Potensi sumber daya
ini telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat dan telah berperan penting sebagai
sumber mata pencaharian, sumber protein hewani, bahan baku industri, dan sarana
penyedia lapangan kerja. Bahkan sejak terbentuknya Depertemen Kelautan dan
Perikanan, sumber daya ini diharapkan menjadi prime mover perekonomian
Indonesia (Johanes Widodo dan Suadi, 2006).
Perikanan adalah suatu kegiatan perekonomian yang
memanfaatkan sumber daya alam perikanan dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan
teknologi untuk kesejahteraan manusia dengan mengoptimalisasikan dan memelihara
produktivitas sumber daya perikanan dan kelestarian lingkungan.
Dalam kegiatan usaha perikanan, terlibat tiga unsur
utama yaitu komoditas perikanan, lingkungan dan manusia sebagai pengelolanya.
Upaya meningkatkan pendapatan rumah tangga nelayan dapat dilakukan melalui
perbaikan pengelolaan proses produksi dan pasca panen perikanan tangkap maupun
budidaya, penerapan teknologi yang tepat, memperbaiki keadaan lingkungan, serta
sangat penting untuk meningkatkan kemampuan manajemen dan sumber daya
manusianya.
1.2
Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui
potensi kelautan dan perikanan Provinsi Sumatera Utara, permasalahan yang terjadi di daerah
pesisir Sumatera Utara serta strategi dan kebijakan Dinas
Kelautan dan Perikanan provinsi Sumatera Utara dalam menghadapi permasalahan
yang terjadi di daerah pesisir Sumatera Utara.
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
Istilah sosiologi pertama kali dicetuskan oleh seorang filsuf asal Perancis bernama Auguste Comte dalam bukunya Cours de la Philosovie Positive. Orang yang dikenal dengan bapak sosilogi tersebut menyebut sosiolog adalah ilmu pengetahuan tentang masyarakat. Kata sosiologi sebenarnya berasal dari bahasa Latin yaitu 'socius' yang berarti teman atau kawan dan 'logos' yang berarti ilmu pengetahuan. Merujuk pada arti dua kata tersebut, maka sosiologi berarti ilmu tentang teman. Dalam arti yang lebih luas, sosiologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi manusia di dalam masyarakat.
Seiring dengan perkembangan sosiologi, berikut ini pengertian sosiologi menurut pendapat para ahli dari sudut pandang masing-masing.
1. Auguste Comte
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari manusia sebagai makhluk yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama dengan sesamanya.
2. Emile Durkheim
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari fakta sosial. Fakta sosial merupakan cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu, serta mempunyai kekuatan memaksa dan mengendalikan.
3. Max Weber
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tindakan sosial. Tindakan sosial adalah tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan dan berorientasi pada perilaku orang lain.
4. P.J. Bouman
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan-hubungan sosial antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, serta sifat dan perubahan-perubahan dalam lembaga-lembaga dan ide-ide sosial.
5. Pitirim A. Sorokin
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari mengenai:
· Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial, misalnya antara gejala ekonomi dan agama, keluarga dan moral, hukum dan ekonomi, gerak masyarakat dan politik, dan sebagainya.
· Hubungan dan saling pengaruh antara gejala-gejala sosial dan gejala-gejala nonsosial, misalnya gejala geografis, biologis, dan sebagainya.
· Ciri-ciri umum semua jenis gejala sosial.
6. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi
Sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.
7. Kingsley Davis
Sosiologi adalah suatu studi yang mengkaji bagaimana masyarakat mencapai kesatuannya, kelangsungannya, dan caracara masyarakat itu berubah.
2.2
Perkembangan Tokoh Sosiologi
Tokoh-tokoh
yang mempengaruhi perkembangan sosiologi
1.
Ibnu Khaldun (1332-1406)
Ibnu
Khaldun lahir di Tunisia, Afrika Utara, 27 Mei 1332 (Faghirazadeh, 1982). Ia
kahir dari keluarga terpelajar, dimasukkan ke sekolah Al-Quran, kemudian
mempelajari matematika dan sejarah. Adapun pendapat Khaldun tentang watak-watak
masayarakat manusia dijadikannya sebagai landasan konsepsinya bahwa kebudayaan
dalam berbagai bangsa berkembang melalui empat mazhab yaitu fase primitif atau
nomaden, fase urbanisasi, fase kemewahan, dan fase kemunduran yang mengantarkan
kehancuran. Kemudian keempat perkembangan ini oleh Khaldun sering disebut
dengan fase pembangun, pemberi gambar gembira, penurut, dan penghancur.
2.
Auguste Comte (1789-1857)
Auguste
Comte lahir di Mountpelier Perancis, 19 Januari 1798. Ia merupakan bapak sosiologi, orang pertama yang
menggunakan istilah sosiologi (sociusdanlogos). Dia mempunyai
anggapan bahwa sosiologi terdiri dari dua bagian pokok, yaitu social
statistic (statika sosial atau struktur sosial yang ada) dansocial
dynamic (dinamika sosial atau perubahan sosial).
Dalam
teorinya tentang dunia, Comte menyatakan bahwa kekacauan intelektual
menyebabkan kekacauan sosial. Hasilkarya Comte yang terutama adalah :
1. The Scientific Labors Necerssary for
Reorganization of Society (1822);
2. The Positive Philosophy (6 jilid 1830-1840);
3. Subjective Synthesis (1820-1903).
3. Karl Marx (1818-1883)
Karl Marx lahir di Trier, Prusia, 5 Mei 1818.
Ia adalah seorang ahli filsafat sejarah Jerman. Marx hidup selama abad ke-19,
yaitu saat kapitalisme merajai wilayah Eropa dan Amerika.
Marx yakin
bahwa setiap manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial. Mereka perlu
bekerja bersama untuk menghasilkan segala sesuatu yang mereka perlukan untuk
hidup. Melalui perjalanan sejarah, proses alamiah ini dihancurkan, dan mencapai
titik puncaknya dalam kapitalisme.
Menurut
Marx, kapitalisme di dalamnya memiliki penyebab-penyebab kerusakannya. Marx
juga percaya bahwa sifat dasar pekerja industri juga memberi kontribusi bagi
kejatuhan kapitalisme. Marx yakin bahwa tragedi kapitalisme terjadi dengan cara
bahwa suatu sistem mentransformasikan kerja dari sesuatu yang bermakna menjadi
sesuatu yang tidak bermakna.
4. Emile Durkheim (1858-1917)
Emile
Durkheim lahir di Epinal, Perancis 15 April. Dia adalah seorang sosiolog
teoritis dan praktisi pendidikan. Menurutnya, sosiologi meneliti
lembaga-lembaga dalam masyarakat dan proses-proses sosial. Durkheim melihat bahwa setiap masyarakat manusia
memerlukan solidaritas.
Durkheim
menyimpulkan bahwa masyarakat dan agama adalah satu dan sama. Dalam masalah sosiologi, ia
mengklasifikasikan pembagian sosiologi atas tujuh kelompok, yaitu Sosiologi
umum yang mencakup kepribadian individu dan kelompok manusia, Sosiologi agama, Sosiologi
hukum dan moral yang mencakup organisasi politik, organisasi social, perkawinan dan keluarga, Sosiologitentang
kejahatan, Sosiologi ekonomi yang mencakup ukuran-ukuran penelitian dan
kelompok kerja, Demografi yang mencakup masyarakat pedesaan dan perkotaan, Sosiologi
estetika.
Hasil
karyanya yang terkemuka diantaranya The Social Division of Labor (1893),
The Rules of Sociological Method (1895), The Elementary Forms of
Religious (1912).
2.3
Teori Sosiologi Ekonomi
Sosiologi
berasal dari bahasa yunani yaitu kata socius dan logos, di mana socius memiliki
arti kawan / teman dan logos berarti kata atau berbicara. Menurut Bapak Selo
Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari
struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.
Menurut ahli sosiologi lain yakni Emile Durkheim, sosiologi adalah suatu ilmu
yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara
bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana
fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.
Objek dari
sosiologi adalah masyarakat dalam berhubungan dan juga proses yang dihasilkan
dari hubungan tersebut. Tujuan dari ilmu sosiologi adalah untuk meningkatkan
kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan lingkungan
sosialnya. Pokok bahasan dari ilmu sosiologi adalah seperti kenyataan atau
fakta sosial, tindakan sosial, khayalan sosiologis serta pengungkapan realitas
sosial.
Tokoh
utama dalam sosiologi adalah Auguste Comte (1798-1857) berasal dari perancis
yang merupakan manusia pertama yang memperkenalkan istilah sosiologi kepada
masyarakat luas. Auguste Comte disebut sebagai Bapak Sosiologi di dunia
internasional. Di Indonesia juga memiliki tokoh utama dalam ilmu sosiologi yang
disebut sebagai Bapak Sosiologi Indonesia yaitu Selo Soemardjan / Selo Sumarjan
/ Selo Sumardjan.
BAB III
ANALISIS
3.1
Sejarah Singkat Provinsi Sumatera
Utara
Republik Indonesia (R.I.) No. 10 Tahun 1948 pada
tanggal 15 April 1948, ditetapkan bahwa Sumatera dibagi menjadi tiga provinsi
yang masing-masing berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri yaitu:
Provinsi Sumatera Utara, Provinsi Sumatera Tengah, dan Provinsi Sumatera
Selatan. Tanggal 15 April 1948 selanjutnya ditetapkan sebagai hari jadi
Provinsi Sumatera Utara.
Pada awal tahun 1949, dilakukan kembali reorganisasi
pemerintahan di Sumatera. Dengan Keputusan Pemerintah Darurat R.I. Nomor
22/Pem/PDRI pada tanggal 17 Mei 1949, jabatan Gubernur Sumatera Utara
ditiadakan. Selanjutnya dengan Ketetapan Pemerintah Darurat R.I. pada tanggal
17 Desember 1949, dibentuk Provinsi Aceh dan Provinsi Tapanuli/Sumatera Timur.
Kemudian, dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 5 Tahun 1950
pada tanggal 14 Agustus 1950, ketetapan tersebut dicabut dan dibentuk kembali
Provinsi Sumatera Utara.
Dengan Undang-Undang R.I. No. 24 Tahun 1956 yang
diundangkan pada tanggal 7 Desember 1956, dibentuk Daerah Otonom Provinsi Aceh,
sehingga wilayah Provinsi Sumatera Utara sebahagian menjadi wilayah Provinsi
Aceh.
3.2
Letak Geografis Provinsi Sumatera
Utara
Letak
Wilayah Provinsi Sumatera Utara secara geografis berada pada posisi 1° - 4°
Lintang Utara dan 98° - 100° Bujur Timur. Provinsi Sumatera Utara berbatasan
dengan Nangroe Aceh Darusalam di sebelah Utara, Provinsi Riau dan Sumatera
Barat di sebelah Selatan, Samudra Hindia di sebelah Barat dan Selat Malaka di
sebelah Timur. Luas daratan Provinsi Sumatera Utara adalah seluas 72.981,23
km2.
Provinsi
Sumatera Utara memiliki sebanyak 419 pulau-pulau besar dan pulau-pulau kecil
yang terdiri dari sebanyak 237 pulau yang telah memiliki nama dan sebanyak 182
pulau yang belumn memiliki nama. Adapun jumlah sungai yang terdapat di wilayah
Provinsi Sumatera Utara sebanyak 229 sungai dengan panjang 549,56 km.
3.3
Kondisi
Sosial Ekonomi Provinsi Sumatera Utara
Administrasi
Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara pada bulan Juni 2010 terdiri atas 25
Kabupaten dan 8 Kota. Selanjutnya Kabupaten/Kota tersebut terdiri atas 417
kecamatan. Pada administrasi yang paling bawah, kecamatan terdiri atas
kelurahan untuk daerah perkotaan (rural) dan desa untuk daerah pedesaan
(rural). Secara keseluruhan Provinsi Sumatera Utara mempunyai 5.744
desa/kelurahan. Jumlah PNS daerah (otonomi di Sumatera Utara pada keadaan
Januari 2010 ada sebanyak 219.537 orang.
Jumlah
penduduk Provinsi Sumatera Utara sebesar 13.103.596 jiwa dengan kepadatan
penduduk 183 jiwa per kilometer persegi yang terdiri dari penduduk yang
berjenis kelamin laki-laki sebanyak 6.544.092 jiwa dan perempuan sebanyak
6.559.504 jiwa. Jumlah partisipasi sekolah di Provinsi Sumatera Utara mulai dai
Tingkat TK sampai dengan Perguruan tinggi pada tahun ajaran 2010/2011 adalah
sebanyak 4.586.795 atau 35,33 % dari jumlah penduduk.
Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Sumatera Utara atas Dasar Harga Berlaku
(ADHB) pada Tahun 2010 sebesar Rp. 275,70 triliun. Sektor industri masih
sebagai kontributor utama dengan peranan mencapai 22,96%. Selanjutnya diikuti
oleh sektor pertanian (22,92%) dan sektor perdagangan, hotel dan restoran
(19,00%). Sementara Itu sektor-sektor lainnya memberikan kontribusi sebesar
35,15% terhadap perekonomian Sumatera Utara. Secara keseluruhan perekonomian
Sumatera Utara pada tahun 2010 tumbuh sekitar 6,35%, meningkat jika
dibandingkan tahun sebelumnya.
Provinsi Sumatera Utara telah ditetapkan kawasan
andalan yang merupakan bagian dari kawasan budi daya baik di ruang darat maupun
ruang laut yang pengembangannya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi
bagi kawasan tersebut dan kawasan di sekitarnya.
Di samping kawasan andalan terdapat kawasan
strategis provinsi. Kawasan strategis provinsi merupakan bagian wilayah
provinsi yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat
penting dalam lingkup provinsi baik di bidang ekonomi dan sosial budaya maupun
lingkungan.
Kawasan strategis provinsi berfungsi:
(1) untuk mewadahi penataan ruang kawasan yang tidak
bisa terakomodasi dalam rencana struktur ruang dan rencana pola ruang;
(2) sebagai alokasi ruang untuk berbagai kegiatan
sosial ekonomi masyarakat dan kegiatan pelestarian lingkungan dalam wilayah
provinsi yang dinilai mempunyai pengaruh sangat penting terhadap wilayah
provinsi; dan
(3) sebagai dasar
penyusunan rencana tata ruang kawasan strategis provinsi.
3.4
Kondisi
Perairan dan Ekonomi Perairan Beberapa Kabupaten di Sumatera Utara
Kisaran suhu perairan di sekitar KKLD Kabupaten Nias
berkisar 290C - 300C, salinitas berkisar antara 33-34 ppt, dan pH berkisar 7,8
- 8,1 dengan rerata 8,0 serta kecepatan arus relatif lemah sekitar 25 cm/detik.
Luas hutan mangrove di Kabupaten Nias sekitar 3.700
Ha yang perkiraan dalam kondisi baik 420 Ha dan rusak 3.280 Ha. Luas tutupan
mangrove ini didukung oleh keberadaan beberapa sungai di Kecamatan Lahewa.,
dengan sungai yang tergolong besar adalah Sungai Lafau dengan panjang 11 km
yang bermuara di Desa Moawo.
Hasil studi kajian penetapan site COREMAP II,
menyatakan bahwa luas terumbu karang di Kabupaten Nias adalah 2.204 Ha yang
tersebar di empat kecamatan yaitu Kecamatan Lahewa 1.250 Ha, Kecamatan
Tuhemberua 156 Ha, Kecamatan Afulu 617 Ha dan Kecamatan Sirombu 217 Ha.
3.4.2
Kondisi
Perairan dan Ekonomi Perairan Kabupaten Tapanuli Tengah
Kecepatan
arus laut di perairan Kabupaten Tapanuli Tengah berkisar antara 3,1 mil/hari
sampai dengan 36 mil/hari.
Luas keseluruhan hutan mangrove Kabupaten Tapanuli
Tengah mencapai 1.800 ha, dari keseluruhan luasan tersebut yang masih dalam
kondisi baik sekitar 1.579 ha sedangkan sisanya sekitar 230 ha telah mengalami
kerusakan. Vegetasi mangrove didominasi oleh Rhizopora mucronata.
Terumbu karang yang terdapat di Kabupaten Tapanuli
Tengah antara lain fringing reef, patch reef dan shoal yang luasannya mencapai sekitar
25,3572 km2. Berdasarkan hasil pengamatan, tutupan karang hidup antara
0,00%-79,70%, dengan rerata persentae tutupan karang hidup 26,98%. Sementara
itu, Neopomacentrus cynamos merupakan jenis ikan karang yang memiliki
kelimpahan yang tertinggi dibandingkan dengan ikan karang jenis lainnya, yaitu
sebesar 4.571 ind/ha. Kelimpahan beberapa jenis ikan ekonomis penting lainya
yaitu ikan kakap 813 ind/ha, ikan kerapu 165 ind/ha, ikan ekor kuning 936
ind/ha, dan ikan kepe-kepe yang merupakan ikan indikator untuk menilai
kesehatan terumbu karang memiliki kelimpahan sebesar 330 ind/ha.
3.4.3
Kondisi
Perairan dan Ekonomi Perairan Kabupaten Serdang Bedagai
Kondisi pasang surut di perairan Kabupaten Serdang
Bedagai termasuk pasang surut campuran, cenderung bersifat harian ganda (mixed
prevailing semi diurnal) dengan 2 kali pasang dan 2 kali surut dalam sehari
dengan amplitudo dan periode pasang surut yang berbeda setiap hari. Tinggi
pasang maksimum adalah 3 m dengan surut terendah 0,5 m. Suhu perairan berkisar
antara 27-300C dengan kecerahan perairan rata-rata 2,8 m. Kecepatan arus
berkisar antara 1-3 knot dengan arah arus dari Barat Daya, Timur Laut dan
Tenggara.
Vegetasi darat dan pantai yang terdapat di Kabupaten
Serdang Bedagai umumnya didominasi oleh pohon kelapa (Cocus nucifera), semak
dan mangrove. Pohon kelapa banyak dibudidayakan oleh masyarakat, sementara
hutan mangrove dapat ditemui mulai dari pantai timur bagian selatan. Beberapa
jenis mangrove yang umum dijumpai di Kabupaten Serdang Bedagai adalah bakau (Rhizophora
spp), api-api (Avicennia spp), tanjung (Bruguiera spp), tengar (Ceriops spp)
dan Nipah (Nypa fructicans). Ekosistem mangrove di Kabupaten Serdang Bedagai
merupakan ekosistem yang kompleks dimana banyak organisme laut dan darat yang
berasosiasi intensif dengan ekosistem ini, seperti jenis reptil biawak dan
ular, ikan, burung, dan crustacea.
Jenis-jenis karang yang ditemukan di sekitar Pulau
Berhala termasuk ke dalam jenis karang keras (hard coral) seperti massive coral
dengan penutupan 53%, acropora tabulate 24%, acropora digitata 15%, dan coral
branching 7%. Ekosistem Karang di perairan sekitar Pulau Berhala merupakan
ekosistem yang kompleks dimana banyak organisme laut yang berasosiasi intensif
dengan ekosistem utama pulau ini, seperti penyu hijau (Chelonia mydas) biasanya
bertelur pada bulan Mei dan Juni setiap tahunnya di pantai Pulau Berhala.
Kehadiran penyu-penyu tersebut menjadi harapan tersendiri bagi kegiatan
konservasi dan pengembangbiakan penyu sebagai salah satu fauna yang dilindungi.
Oleh karena itu, Pemerintah Daerah Kabupaten Serdang Bedagai telah mengeluarkan
Perda No. 12 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Pulau Berhala sebagai kawasan
wisata bahari berwawasan lingkungan (Eco Mmarine Tourism).
Beberapa ikan karang konsumsi yang dijumpai adalah
jenis ikan kerapu (Chomileptes altivelis, Ephinephelus fuscoguttatus), ikan
kakap (Baroci) (Lutjanus decussatus), ikan baronang (Siganus coralinus, S.
dolainus), ikan ekor kuning (Caesio kuning), ikan tanda-tanda (Lutjanus
Fulvilamma), ikan pari bintik biru (Halichoeris centriquadrus), ikan gitaran
(Rhynchobatus djiddesis), ikan pari (Rhinotera javanica), dan beberapa jenis
ikan hias.
3.5
Potensi
Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara
Potensi Kelautan dan Perikanan Sumatera Utara terdiri dari Potensi Perikanan Tangkap dan Perikanan Budidaya, dimana Potensi Perikanan Tangkap terdiri Potensi Selat Malaka sebesar 276.030 ton/tahun dan Potensi di Samudera Hindia sebesar 1.076.960 ton/tahun. Sedangkan Produksi Perikanan Budidaya terdiri Budidaya tambak 20.000 Ha dan Budidaya Laut 100.000 Ha, Budidaya air tawar 81.372,84 Ha dan perairan umum 155.797 Ha, kawasan Pesisir Sumatera Utara mempunyai Panjang Pantai 1300 Km yang terdiri dari Panjang Pantai Timur 545 km, Panjang Pantai Barat 375 Km dan Kepulauan Nias dan Pulau-Pulau Baru Sepanjang 350 Km.
Sedangkan wilayah pengembangan Kelautan dan Perikanan di Provinsi Sumatera Utara dibagi menjadi 3 wilayah pengembangan yang terdiri dari:
1. Wilayah Pantai Barat Sumatera Utara
Terdiri dari 12 kabupaten/kota yang berada di wilayah Pantai Barat yaitu Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidempuan, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara.
Dimana Potensi Pengembangan pada wilayah ini adalah penangkapan ikan, pengolahan ikan. Budidaya Laut yang terdiri dari Rumput Laut, Kerapu dan kakap, Budidaya tawar yang terdiri dari mas, nila, Lele, Patin, Gurame, Tawes dan Nilam. Budidaya Tambak yang terdiri dari Udang Vaname, Udang Windu, Kerapu, Kakap, Bandeng.
2. Wilayah Dataran Tinggi Sumatera Utara
Kabupaten/Kota yang termasuk pada wilayah dataran tinggi Sumatera Utara adalah Wilayah yang berada di wilayah tengah Provinsi Sumatera Utara yang terdiri dari 10 Kabupaten/Kota yaitu Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Karo, Kabupaten Dairi, Kabupaten Samosir, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Simalungun, Kota Pematang Siantar, Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Pakpak Bharat. Sedangkan Potensi Pengembangan pada wilayah ini terdiri dari penangkapan ikan di perairan umum, pengolahan ikan. budidaya air tawar yaitu Nila, Mas, Lele, Patin dan Gurame.
3. Wilayah Pantai Timur Sumatera Utara
Terdapat 11 Kabupaten/Kota yang termasuk pada wilayah Pantai Timur Sumatera Utara yang terdiri dari Kabupaten Langkat, Kota Binjai, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Asahan, Kabupaten Labuhan Batu, kabupaten Labuhan batu Selatan, Kabupaten Labuhan Batu Utara, Kabupaten Batubara, Kota Medan, Kota Tanjung Balai, Dimana potensi pengembangan di wilayah Timur Sumatera Utara adalah penangkapan ikan, pengolahan ikan. Budidaya Laut yang terdiri dari kerapu, kakap, dan kerang hijau, Budidaya Tawar yaitu Mas, Nila, Lele, Patin, Gurame, Grass carp, Lobster air tawar, Bawal tawar dan Ikan hias, Budidaya Tambak yaitu Rumput Laut, Udang Vaname, Udang Windu, Kerapu, Kakap, Bandeng, sedangkan Budidaya perairan umum yaitu Mas, Nila dll.
Sedangkan wilayah pengembangan Kelautan dan Perikanan di Provinsi Sumatera Utara dibagi menjadi 3 wilayah pengembangan yang terdiri dari:
1. Wilayah Pantai Barat Sumatera Utara
Terdiri dari 12 kabupaten/kota yang berada di wilayah Pantai Barat yaitu Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidempuan, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara.
Dimana Potensi Pengembangan pada wilayah ini adalah penangkapan ikan, pengolahan ikan. Budidaya Laut yang terdiri dari Rumput Laut, Kerapu dan kakap, Budidaya tawar yang terdiri dari mas, nila, Lele, Patin, Gurame, Tawes dan Nilam. Budidaya Tambak yang terdiri dari Udang Vaname, Udang Windu, Kerapu, Kakap, Bandeng.
2. Wilayah Dataran Tinggi Sumatera Utara
Kabupaten/Kota yang termasuk pada wilayah dataran tinggi Sumatera Utara adalah Wilayah yang berada di wilayah tengah Provinsi Sumatera Utara yang terdiri dari 10 Kabupaten/Kota yaitu Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Karo, Kabupaten Dairi, Kabupaten Samosir, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Simalungun, Kota Pematang Siantar, Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Pakpak Bharat. Sedangkan Potensi Pengembangan pada wilayah ini terdiri dari penangkapan ikan di perairan umum, pengolahan ikan. budidaya air tawar yaitu Nila, Mas, Lele, Patin dan Gurame.
3. Wilayah Pantai Timur Sumatera Utara
Terdapat 11 Kabupaten/Kota yang termasuk pada wilayah Pantai Timur Sumatera Utara yang terdiri dari Kabupaten Langkat, Kota Binjai, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Asahan, Kabupaten Labuhan Batu, kabupaten Labuhan batu Selatan, Kabupaten Labuhan Batu Utara, Kabupaten Batubara, Kota Medan, Kota Tanjung Balai, Dimana potensi pengembangan di wilayah Timur Sumatera Utara adalah penangkapan ikan, pengolahan ikan. Budidaya Laut yang terdiri dari kerapu, kakap, dan kerang hijau, Budidaya Tawar yaitu Mas, Nila, Lele, Patin, Gurame, Grass carp, Lobster air tawar, Bawal tawar dan Ikan hias, Budidaya Tambak yaitu Rumput Laut, Udang Vaname, Udang Windu, Kerapu, Kakap, Bandeng, sedangkan Budidaya perairan umum yaitu Mas, Nila dll.
3.6
Permasalahan yang Terjadi di Daerah
Pesisir Sumatera Utara
Wilayah pesisir merupakan suatu himpunan
dari komponen hayati dan nirhayati. Komponen hayati dan nirhayati secara
fungsional berhubungan satu sama lain dan saling berinteraksi membentuk suatu
sistem. Apabila terjadi perubahan pada salah satu dari kedua komponen tersebut
dapat mempengaruhi keseluruhan sistem yang ada baik dalam struktur fungsional
maupun dalam keseimbangannya. Kelangsungan fungsi wilayah pesisir sangat
menentukan kelestarian sumberdaya hayati sebagai komponen utama dalam sistem di
wilayah pesisir.
Dari
berbagai teori yang menerangkan tentang profesi nelayan tetap menjadi pilihan
terakhir masyarakat pesisir. Salah satunya adalah, disebutkan bahwa profesi
nelayan tetap menjadi pilihan terakhir dikarenakan tidak adanya peluang kerja
di daratan (push factor theory).Selain
itu, ada juga teori yang mengatakan bahwa profesi nelayan diminati karena
menarik dan relatif menguntungkan (pull
factor theory). Namun teori yang kedua ini tidak sesuai dengan kondisi
masyarakat nelayan Indonesia yang tetap miskin. Selain kedua teori tersebu,
dipilihnya profesi nelayan dikarenakan bersifat given, dimana profesi nelayan menjadi the way of live yang diturunkan dari generasi ke generasi. Dengan
demikian, banyak hal yang menyebabkan kenapa profesi nelayan menjadi pilihan
terakhir. Namun yang pasti, profesi nelayan dari generasi ke generasi hanya
mewariskan kemiskinan yang semakin akut karena kompleksnya permasalahan.
Selain
itu, kompleksnya permasalahan kemiskinan masyarakat nelayan terjadi disebabkan
masyarakat nelayan hidup dalam suasana alam yang keras yang selalu diliputi
ketidakpastian (uncertainly) dalam
menjalankan usahanya. Kondisi inilah yang mengakibatkan nelayan dijauhi oleh
institusi-institusi perbankan dan perusahaan asuransi,seperti sulitnya
masyarakat nelayan mendapatkan akses pinjaman modal, baik untuk modal kerja
maupun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.
Ditengah
kesusahan itulah, masyarakat nelayan menggantungkan hidupnya pada institusi
yang mampu menjamin keberlangsungan hidup keluarganya. Jaminan sosial dalam
suatu masyarakat merupakan implementasi dari bentuk bentuk perlindungan, baik
yang diselenggarakan oleh negara, maupun institusi-institusi sosial yang ada
pada masyarakat terhadap individu dari resiko-resiko tertentu dalam hidupnya.
Selama
ini, tidak adanya alternatif institusi di wilayah pesisir dalam menjamin
keberlangsungan hidup masyarakat nelayan menyebabkan mereka beberapa kali harus
jatuh pada pola atau institusi patron-klien yang menurut para peneliti
(perpektif etic) sering bersifat
asimetris. Dalam hubungan ini, klien kerap dihadapkan pada sejumlah masalah
seperti pelunasan kredit yang tidak pernah berakhir yang sebenarnya inilah
jebakan patron demi melanggengkan usahanya. Namun berdasarkan pandangan nelayan
(perspektif emic), kuatnya pola
patron-klien di masyarakat nelayan disebabkan oleh kegiatan perikanan yang
penuh resiko dan ketidakpastian sehingga tidak ada pilihan lagi bagi mereka
selain bergantung pada pemilik modal (patron).
Terdapat
beberapa keadaan yang berlaku umum terhadap nelayan di Sumatera Utara dan sudah
menjadi rahasia umum tentang hal yang terjadi di masyarakat nelayan bahwasanya
telah terjadi beberapa hal yang cukup menjadi alasan kenapa begitu susahnya
melakukan program pengentasan kemiskinan bagi masyarakat pesisir yang sebagian
besarnya berprofesi sebagai nelayan. Diantaranya adalah:
a.
Pendidikan yang bisa dikatakan masih
sangat rendah. Jika di rata – ratakan untuk setiap nelayan di Sumatera Utara
adalah hanya lulusan Sekolah Dasar ( SD ). Ini yang disayangkan dari kehidupan
para nelayan yang pada dasarnya memang diwajibkan untuk memiliki keahlian yang
tinggi dan pendidikan yang menunjang guna membangkitkan perekonomian bangsa
dari perikanan dan kelautan, karena seperti yang kita ketahui negara Indonesia
merupakan negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya adalah laut. Maka
faktor pendidikan dan keahlian khusus harus diterapkan untuk para nelayan
khususnya calon – calon nelayan sejak dini.
b.
Kurangnya teknologi baik dari
penangkapan, budidaya, pengolahan dan lainnya. Hanya beberapa nelayan yang
memang sudah menerapkan teknologi modern dan kebanyakan adalah nelayan
tradisional. Ini mengakibatkan kurangnya hasil produksi perikanan di Indonesia
khusunya Sumatera Utara yang ujung – ujungnya rendahnya perekonomian nelayan di
Sumatera Utara. Dan dari data yang diperoleh hanya 35% sumber daya perikanan
yang sudah dimanfaatkan secara optimal di saerah Sumatera Utara baik perairan
darat ataupun laut. Ini bahkan masih kurang dari setengahnya, dan jika ini
dimanfaatkan secara baik maka Sumatera Utara akan bias menjadi salah satu
provinsi dengan penghasilan perikanan yang paling baik disbanding provinsi lain
di Indonesia, selain itu bias juga dijadikan sumber devisa Negara untuk di
ekspor ke Negara – Negara Eropa, Jepang ataupun Amerika Serikat.
c. Kebiasaan
para nelayan apabila kembali dari laut dan memperoleh hasil yang melimpah
sehingga memperoleh uang yang relatif cukup besar, akan enggan untuk bersegera
kembali melaut setelah masa istirahatnya berakhir. Mereka cenderung akan
menghabiskan dahulu penghasilan yang mereka peroleh dengan bersantai-santai
bersama teman dan bersama nelayan-nelayan lain yang tidak sedang melaut. Setelah
akhirnya uang yang mereka miliki habis, bahkan ada yang sampai sanggup untuk
berhutang untuk memenuhi kebutuhan sirinya dan keluarganya, barulah mereka
kembali bekerja untuk mencari ikan dan benda-benda laut lainnya di lautan.
d. Faktor
cuaca yang sering tidak berpihak pada nelayan. Saat ini dengan kondisi alam
yang katanya tidak menentu lagi (konon disebabkan “global warming” atau
pemanasan global), keadaan cuaca menjadi musuh nelayan. Ketika nelayan hendak
pergi ke laut tiba-tiba angin berhembus begitu kencangnya sehingga menyebabkan
ketinggian ombak meningkat dan menyebabkan nelayan urung untuk pergi ke laut.
Begitu juga jika memasuki musim hujan, bila hujan turun disertai petir dan
angin maka sudah bisa dipastikan nelayan tidak akan berani pergi melaut. Saat
pasang besar juga menjadi masalah tersendiri bagi nelayan, gelombang-gelombang
tinggi akan mengancam nyawa nelayan sehingga menghambat niat nelayan untuk
pergi mencari nafkah. Hal yang berhubungan dengan cuaca ini jika dihitung
jumlahnya dalam setahuh ternyata cukup banyak sehingga akhirnya mereka tidak
pergi ke laut.
e. Waktu
luang yang tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya. Ketika tidak sedang pergi ke laut
nelayan cenderung menghabiskan waktunya di kedai-kedai minuman berbaur dengan
teman dan sesama nelayan. Sangat sedikit jumlahnya yang mau menfaatkan waktu
luang mereka untuk melakukan hal-hal yang lebih produktif untuk menambah
penghasilan mereka. Padahal kalau mereka mau berfikir sedikit saja, akan banyak
sekali kegiatan yang dapat mereka lakukan untuk meningkatkan atau menambah
penghasilan mereka disamping usaha pokoknya sebagai nelayan.
3.7
Strategi
dan Kebijakan Dinas Kelautan dan Perikanan provinsi Sumatera Utara
Berdasarkan visi dan misi yang telah ditetapkan maka
diperlukan strategi dan kebijakan sebagai suatu landasan tindak lanjut untuk
merespon isu strategis serta prospek pembangunan tahun 2013 – 2018. Adapun
Strategi dan dan arah kebijakan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera
Utara adalah sebagai berikut :
·
Meningkatkan produksi perikanan tangkap
·
Meningkatkan produksi perikanan budidaya
·
Meningkatkan jumlah pembudidaya ikan
yang menerapkan Cara
Berbudidaya Ikan yang Baik (CBIB) dan Cara
Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) :
·
Meningkatkan volume ekspor hasil
perikanan
·
Meningkatkan nilai ekspor hasil
perikanan
·
Meningkatkan jumlah konsumsi ikan
masrakata
·
Meningkatkan pendapatan nelayan
·
Meningkatkan jumlah Unit Pengolah Ikan
(UPI) yang memiliki Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP)
·
Meningkatkan pengelolaan wilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil
·
Mengurangi kegiatan Illegal Fishing
(penangkapan ikan tanpa dokumen pendukung)
3.8
Kondisi Umum
Pada tahun 1990 penduduk usia kerja (10 tahun ke
atas) di propinsi ini berjumlah 7.431.691 orang (72,49 persen). Dari jumlah
tersebut yang masuk ke dalam angkatan kerja sebanyak 4.227.146 orang dan
angkatan kerja yang bekerja berjumlah 4.127.687 orang. Dari seluruh angkatan
kerja yang bekerja terse-but, sebagian besar terserap di sektor pertanian (61,0
persen). Sisanya terserap di berbagai sektor lain, yaitu sektor industri (10,47
persen) dan jasa (28,53 persen).
Propinsi Sumatera Utara memiliki kekayaan budaya
yang beraneka ragam dalam bentuk adat istiadat, tradisi, kesenian, dan bahasa.
Masyarakat Sumatera Utara terdiri atas berbagai suku, antara lain Melayu, Nias,
Batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan
(Sipirok, Angkola, Padang Bolak, Mandailing), dan para pendatang yang telah
lama menetap, seperti Jawa dan Minang, yang masing-masing memiliki kebudayaan
dan adat istiadatnya sendiri. Penduduk propinsi ini sebagian besar beragama
Islam (62,2 persen), dan selebihnya beragama Kristen (33,5 persen), Hindu (1,4
persen), serta lainnya (2,9 persen).
Secara administratif, Daerah Tingkat I Sumatera
Utara terdiri atas 11 kabupaten daerah tingkat II, yaitu Kabupaten Nias, Tapanuli
Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Labuhan Batu, Asahan, Simalungun,
Dairi, Karo, Deli Serdang dan Langkat, dan enam kotamadya daerah tingkat IT,
yaitu Kotamadya Medan sebagai ibukota propinsi, Tanjung Balai, Sibolga,
Pematang Siantar, Tebing Tinggi dan Binjai. Dalam wilayah Daerah Tingkat I Sumatera
Utara terdapat tiga kota administratif, yaitu Kota Administratif Kisaran,
Padang Sidempuan, dan Rantau Prapat, 243 wilayah kecamatan, serta 5.292 desa
dan kelurahan.
3.9
Iklim
Daerah ini beriklim
tropis. Pada bulan Mei hingga September, curah hujan ringan. Sedangkan Oktober
hingga April, curah hujan relatif lebat akibat intensitas udara yang lembap.
Sumatera Utara merupakan provinsi keempat terbesar jumlah penduduknya di Indonesia setelah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Menurut hasil pencacahan lengkap Sensus Penduduk (SP) 1990, penduduk Sumatera Utara berjumlah 10,81 juta jiwa, dan pada tahun 2010 jumlah penduduk Sumatera Utara telah meningkat menjadi 12,98 juta jiwa. Kepadatan penduduk Sumatera Utara pada tahun 1990 adalah 143 jiwa per km² dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 178 jiwa per km². Dengan Laju Pertumbuhan Penduduk dari tahun 2000-2010 sebesar 1,10 persen.
Kadar Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Sumatera Utara setiap tahunnya tidak tetap. Pada tahun 2000 TPAK di daerah ini sebesar 57,34 persen, tahun 2001 naik menjadi 57,70 persen, tahun 2002 naik lagi menjadi 69,45 persen.
Kadar Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Sumatera Utara setiap tahunnya tidak tetap. Pada tahun 2000 TPAK di daerah ini sebesar 57,34 persen, tahun 2001 naik menjadi 57,70 persen, tahun 2002 naik lagi menjadi 69,45 persen.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pada dasarnya,
system yang berjalan di Sumatera Utara cukup baik, baik itu dalam hal
pengelolaan sumberdaya perairan laut maupun perairan darat. Namun, banyaknya
faktor yang menyebabkan tertahannya kinerja sistematika yang berjalan. Dengan
berbagai potensi yang dimiliki,Sumatera Utara (Sumut) adalah salah satu
kekuatan perikanan di Tanah Air yang tak boleh diremehkan. Hal itu ak lepas
dari letak geografisnya yang diapit lautan yaitu pantai timur (Selat Malaka)
dan pantai barat (Samudera Hindia). Di lautan potensi perikanan tangkap dan
budi daya pantai/tambak air payau-nya cukup besar. Sedangkan untuk serapan
tenaga kerja, sektor perikanan Sumut menyerap 145.878 orang, 132.378 orang
bergerak di penangkapan serta budi daya dan 13.500 orang lainnya bergerak di
pengolahan. Secara umum mereka berlokasi di Belawan, Tanjung Balai, Sibolga,
Langkat, dan kawasan perairan Danau Toba.
3.2 Saran
Pemerintah
sangat berperan penting bagi pengembangan pada sector-sektor perikanan ataupun
pesisir, perlu ditingkatkan lagi strata social bagi para nelayan pesisir,
peningkatan taraf sumberdaya manusia. Meningkatkan pengembangan budidaya maupun
perikanan tangkap yang ada di sumatera utara dengan cara penyuluhan bagi para
rakyat sumatera utara terutama di daerah pesisir. Serta pemanfaatan hasil
perikanan secara maksimal, dan meningkatkan teknologi baik untuk penangkapan
maupun pengolahannya.
DAFTAR
PUSTAKA
(Diakses
pada 8 Maret 2015 pukul 07:00)
(Diakses
pada 8 Maret 2015 pukul 07:03)
(Diakses
pada 8 Maret 2015 pukul 07:05)
(Diakses
pada 8 Maret 2015 pukul 07:08)
(Diakses pada 8 Maret 2015 pukul 07:12)
(Diakses
pada 8 Maret 2015 pukul 07:13)
(Diakses
pada 8 Maret 2015 pukul 07:22)
(Diakses
pada 8 Maret 2015 pukul 07:23)
(Diakses
pada 10 Maret 2015 pukul 17:00)
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&cad=rja&uact=8&ved=0CDgQFjAD&url=http%3A%2F%2Fwww.bappenas.go.id%2Ffiles%2F2113%2F6082%2F9893%2Fbab-47-bag-02-94-95__20090130075035__1.doc&ei=IgP_VNjxFtGouQSL4ICoBQ&usg=AFQjCNFWwWgYlyRvxhRXwMGtWZZVDb8qzQ&bvm=bv.87920726,d.c2E (Diakses pada 10 Maret 2015 pukul 21. 20)
http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Utara#Penduduk
(Diakses pada 10 Maret 2015 pukul 21.59)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar